Minggu, 26 Februari 2012

Kerajaan Sunda: Hartharanus, benarkah ini Atlantis?



Saudaraku sekalian. Dalam tulisan ini, sekali lagi saya mengajak Anda untuk kembali mengulik tentang sejarah bangsa kita. Tentang betapa nenek moyang kita dulu adalah sosok yang luar biasa dan pernah menjadi contoh bagi peradaban dunia. Sehingga harapannya adalah bahwa kita pun termotivasi untuk turut mengikuti prestasi mereka. Keluar dari kebodohan dan ketertinggalan peradaban seperti sekarang ini. Atau berusaha semaksimal mungkin untuk tetap percaya diri dan segera memperbaiki keadaan – seperti rusaknya akhlak dan rendahnya pengetahuan – agar kita pun dapat meraih kebahagiaan dan keselamatan hidup.

Nah, untuk mempersingkat waktu, mari kita ikuti penelusuran berikut ini:

1. Kerajaan Hartharanus dan Prabu Heru Cakra


Menurut tutur yang berkembang di masyarakat, dahulu kala di Pulau Jawa pernah ada kerajaan yang sudah menganut paham monotheos. Kerajaan besar yang diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta dikenal dengan sebutan Hatharanus itu diperintah oleh seorang raja agung yang adil dan bijaksana dengan gelar Prabu Heru Cakra. Sementara bahasa yang digunakan saat itu adalah Ingsun Sabda yang akhirnya di sebut dengan akronim Sun-Da.

Dibawah kearifan dan ketegasan prabu Heru Cakra, jadilah pulau Jawa sebagai mercusuar Nusantara. Oleh karena itu, layaknya suatu bahasa yang memiliki karakter sebagai sarana untuk berkomunikasi, baik lisan maupun tulis, maka hingga sekarang aksara dan bahasa SunDa masih tetap lestari di tengah tengah masyarakat Nusantara khususnya di pulau Jawa bagian barat.

Tabel: Aksara SunDa (Kaganga)

Prabu Heru Cakra juga dikenal sebagai seorang tokoh yang menyebarkan ilmu hubungan urat syaraf yang berhubungan dengan tiap ruas urat syaraf manusia. Dari mulai tulang ekor hingga tulang tengkorak. Ilmu ini lebih dikenal dengan sebutan Gelang Naga (gelang tenaga). Konon, dinasti Shambala dari Tibet juga mempelajari ilmu ini melalui pertukaran budaya pada masa kejayaan Sriwijaya, dan kemudian ilmu ini dikenal dengan nama Kala Cakra.

Waktu terus berlalu tanpa terasa dan di tandai dengan masuknya agama Hindu dan Buddha. Ilmu Heru Cakra pun mulai berkembang ke luar pulau Jawa, demikian pula saat agama Islam masuk dan berkembang pesat di seantero Nusantara. Silang pendapat tentang kehidupan tokoh yang satu ini, juga seolah tak berkesudahan. Di tataran SunDa meyakini, bahwa Heru Cakra hidup dan mukim di Bantar Kawung Cianjur Jawa Barat. Sementara yang lain meyakini beliau telah hidup pada zaman purba.

Terlepas dari silang pendapat yang berkembang di masyarakat, pada zamanya, tak ada yang bisa menampik, betapa di tanah Jawa pernah ada suatu peradaban yang tinggi dan besar yang dapat dibuktikan dengan adanya bahasa persatuanya, yaitu SunDa. Yang sampai tulisan ini di buat masih sangat lestari di tengah tengah masyarakat, khususnya di Jawa bagian Barat.

2. Legenda Silat dan Pangeran Pengampun

Bagi para guru sepuh ilmu silat, nama Pangeran Pengampun bukanlah nama yang asing. Tetapi pada saat sekarang mungkin hanya beberapa perguruan ssaja yang masih mengenalkan sosok legendaris Pangeran Pengampun.

Konon ilmu silat sudah dikenal jauh sebelum agama Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara. Dimana dibuktikan bahwa di Nusantara ini (sebut saja Pulau Jawa), sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi. Banyak fosil manusia tertua di dunia ditemukan di daratan pulau Jawa, seperti dimulai dari Pithecantrphus eretus sampai ke Mojokerto soloensis.


Pulau Jawa, adalah daerah kapital dari kerajaan Hartharanus. Pangeran Pengampun adalah satu di antara kerabat prabu Heru Cakra yang namanya tetap hidup. Sampai saat sekarang, dimana ilmu yang digelar oleh Pangeran Pengampun adalah ilmu pengharkatan energi yang berbasis pada hubungan urat syarat yang berhubungan dengan setiap ruas tulang manusia. Khususnya ruas tulang belakang dari mulai tulang ekor sampai dengan tulang tengkorak. Ilmu tersebut dikenal dengan istilah Gelang Naga (Gelang tenaga). Konon dinasti Shambala dari Tibet mempelajari ilmu ini melalui pertukaran budaya pada masa kejayaan Sriwijaya. Yang kemudian dikenal dengan ilmu Kala Cakra..

Jelasnya bahwa keilmuan Gelang Naga (gelang tenaga) yang membangkitkan (harkatan/herkaton) energi melalui ring-ring dari disetiap ruas tulang manusia. Dimana setiap di setiap ring ruas tulang terhubung dengan urat syaraf yang berhubungan dengan organ oragn vital manusia. Yang dalam pengertiannya jika energi ini mengalami hambatan, maka ada bagian spesifik tubuh yang tidak teraliri oleh energi yang dirasakan sebagai rasa sakit di organ tersebut yang terasa tidak nyaman.

Masuknya agama Hindu dan Buddha ke Jawa, menyebabkan keilmuan yang berasal dari Pangeran Pengampun semakin maju bahkan beredar keluar pulau Jawa. Namun lafads “Pengampun” sangat sulit diucapkan bagi orang diluar Jawa. Sehingga pemujaan terhadapa Pangeran Pengampun hanyalah terdengar seperti gumanan/lafads yang berbunyi ”Houm houm houm“. Demikian pula setelah Nusantara dimasuki agama Islam pemujaan terhadap Pangeran Pengampun disebut sebagai “Waliullah wakil Kesatu”. Dari sekian banyak ilmu hikmah yang diajarkan oleh para Wali banyak menyebutkan Pangeran Pengampun Waliullah wakil kesatu”

Sehingga secara jelas bahwa “legenda Pangeran Pengampun” tetap hidup dimulai dari zaman Pra Hindu-Budhha sampai saat sekarang. Sosok Pangeran Pengampun adalah tokoh yang tidak masuk dalam catatan sejarah dan namanya hidup dimasyarakat, maka beliau menjadi tokoh legenda. Akan tetapi bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu hikmah akan menemui sebutan “Pangeran Pengampun waliullah wakil kesatu” didalam mantra-mantra tertentu.

Di tatar Sunda (Parahiangan), dipercaya bahwa Pangeran Pengampun pernah hidup di Bantar Kawung Cianjur Jawa barat. Sedangkan di Jawa Tengah Pangeran Pengampun dipercaya pernah hidup di masa kerajaan Hartharanus. Dan dihormati namanya oleh para Wali dengan sebutan “Waliullah wakil Kesatu” yang artinya Wakil yang berkaromah yang berkedudukan di atas para wali.


3. Kesimpulan sementara

Dengan menilik penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan sementara. Pertama, di pulau Jawa dahulu ada sebuah kerajaan yang besar dengan nama Hartharanus. Kedua, negara Hartharanus jika dibaca dari belakang bisa menjadi Nusantara. Ketiga, dalam spelling orang Barat – khususnya Yunani: Plato -, kata Hartharnus menjadi Atlantis. Yang dipercaya oleh mereka sebagai benua yang hilang dan benua yang memiliki peradaban sangat tinggi. Keempat, bahwa di pulau Jawa ada bahasa kesatuan yang disebut bahasa Sun-Da (bahasa Ingsun Sabda). Kelima, keilmuan tentang energi berkaitan dengan energi yang memancar/merambat dari setiap ruas tulang manusia khususnya ruas ruas tulang punggung. Mengalir melalui urat syarat menuju organ organ tubuh yang vital. Ilmu ini pun menyebar kemana-mana bahkan hingga tibet. Keenam, banyak versi tentang prabu Heru Cakra dan legenda Pangeran Pengampun yang beredar di masyarakat.


Kajian ini masih bersifat sementara dan perlu ditelusuri lebih dalam untuk bisa menemukan sejarah yang sebenarnya. Tapi paling tidak bisa memberikan gambaran dan dukungan, bahwa memanglah Nusantara ini dulu pernah memasuki zaman dan peradaban yang sangat maju, serta menjadi pemimpin dunia. Wallahu`alam.

Mempertanyakan Kembali Keberadaan Benua Atlantis



The Lost Island

perbincangan mengenai benua yang hilang – benua Atlantis- seakan terus menerus menelurkan beberapa pendapat yang berbeda. Perbedaan pendapat mengenai keberadaan Atlantis tersebut barangkali berangkat dari ketidakjelasan perbincangan plato mengenati letak dan dimana benua Atlantis itu berada dengan beberapa muridnya meskipun ada beberapa kata kunci. Hal ini pada akhirnya menimbulkan perbedaan pendapat dari para sejarawan tentang keberadaan benua Atlantis. Sehingga tidak salah bila mereka mengatakan bahwa atlantis itu bisa dimana saja. -it could be anywhere-


kita harus benar-benar menghargai perbedaan pendapat dari sejarawan yang mengatakan demikian, meskipun kita masih belum merasa benar-benar setuju dengan pendapat mereka. Kita harus menghormati cara kerja ilmuan yang mencari kebenaran berdasarkan fakta-fakta atau sumber sejarah yang pasti. Karena para sejarawan yang mengatakan bahwa atlantis itu bisa dimana saja tidak hanya menyimpulkannya begitu saja, melainkan mereka berkata dengan adanya alasan yang bisa dipertahankan.


Para ilmuwan tersebut adalah orang-orang yang benar-benar mencari fakta/bukti historis dengan secara detail, mereka mencari korelasi antara isi dari dialog Plato yang dihubungkan dengan keadaan alam dan sisa-sisa bangunan kuno yang menurut mereka mempunyai hubungan khusus dengan benua Atlantis.


Meskipun para ilmuwan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi pada akhirnya kerja keras mereka membuahkan penemuan-penemuan yang baru mengenai Atlantis. Lalu apakah temuan mereka terhadap keberadaan benua atlantis itu benar-benar telah mencapai kesepakatan bersama –para ahli sejarah-?


Kenyataanya hal itu belum benar-benar menjadi sebuah kesepakatan mutlak. Disinilah kita harus memahami cara kerja para ilmuwan dalam mencari dan mengolah data-data yang pada akhirnya akan dijadikan sebuah kesimpulan. Begitu juga kita harus memahami bagaimana mereka satu sama lain saling menyangkal pendapat-pendapat mengenai atlantis.


Atlantis –Sebuah Benua Yang Hilang-


Mitos Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.


Critias, si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis oleh Plato. (melalui tulisan Budi Brahmantyo ”PR” 7 Oktober 2006)


Sudah barang tentu bahwa sumber penting yang pertama bagi para ilmuwan untuk memulai penelitiannya adalah teks dialog tersebut. Sumber itu merupakan bekal pertama para ilmuwan untuk meneliti kebenaran keberadaan benua yang hilang. Para ilmuwan berpendapat bahwa meskipun itu hanya sebuah mitos, yang disampaikan secara turun temurun- tapi dalam mitos tersebut pasti terdapat sebuah sejarah –meskipun sedikit- yang berhubungan dengan mitos tersebut.


Beberapa Penemuan Tentang Atlantis (Mesir-Maya-Akrotiri)


Berangkat dari sana para ilmuwan mulai mencari bukti-bukti sumber data mengenai keberadaan benua atlantis. Beberapa ilmuan ada yang berkeyakinan bahwa benua atlantis itu berada di Meksiko –Peradaban Maya- karena disana ditemukan beberapa bukti-bukti yang berhubungan dengan atlantis. Salah satunya adalah adanya beberapa patung relief yang menyerupai gajah –tanda-tanda dari peradaban atlantis- tepat didepat monumen piramida. –George Erikson-


Namun tidak lama setelah George Erikson mengemukakan pendapatnya mengenai Atlantis di maya, ada beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Menurut mereka –ilmuwan yang tidak setuju- patung yang diyakini Erikson sebagai bukti keberadaan sejarah atlantis hanyalah seekor burung atau seekor musang.


Ada juga ilmuan -William Henry- yang mengatakan bahwa Atlantis itu mempunyai hubungan erat dengan ornamen-ornamen di Mesir. Ia mempunyai pendapat bahwa piramida-piramida dan patung-patung besar yang ada di Mesir dibangun dengan bantuan orang-orang Atlantis dan mungkin dengan bantuan ufo.


mungkin kita akan berpikir demikian kalau kita meyakini bahwa orang-orang Atlantis pada waktu itu telah mencapai peradaban yang tinggi dan mungkin tekhnologi pun sudah dikenal baik pada waktu itu. Hal ini terbukti dengan adanya relief-relief yang serupa dengan kendaraan yang sekarang kita kenal dengan helikopter, kapal selam, dan bahkan ada gambar yang Nampak seperti ufo.










Namun para ilmuwan lain nampaknya mempunyai pendapat berbeda dengan yang dikemukakan oleh William Henry. Para ilmuwan yang meragukan bahwa relief-relief yang menyerupai kapal selam, helikopter dan ufo tersebut berpendapat tidak benar adanya. Mereka berpendapat bahwa relief yang diungkapkan peneliti di Mesir itu bukanlah kapal selam, helikopter dan bahkan ufo. Mereka meyakini bahwa ada pengikisan dari gambar asli –yang sudah berumur beribu tahun itu- dengan gambar yang ada sekarang.


Begitu juga seiring dengan peniliti mesir diatas, nampaknya ada yang mempunyai pemikiran yang bertolak belakang mengenai keberadaan orang atlantis di mesir. Ilmuwan yang mempertanyakan ulang pendapat diatas adalah Profesor Salima Ikram. Dia tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa patung dan piramida yang ada dimesir dikaitkan dengan alien, ufo dan orang-orang atlantis. Dia lebih lanjut menambahkan bahwa bila memang benar adanya bantuan dari orang-orang atlantis maka seharusnya dimesir juga ditemukan peninggalan-peninggalan yang berhubungan dengan orang atlantis semisal perahu atau kapal.


Sementara disisi lain ada ilmuwan yang meyakini bahwa letak benua atlantis itu beralih ke Santorini-Minoan-Akritiri. Didalam penjelasan Plato –The Geat Philoshoper- benua Atlantis itu besarnya melebihi gabungan antara benua Asia dan libia. Dihuni oleh para intelektual yang mempuni dan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, namun keadaan tersebut ternyata malah membuat orang-orangnya lupa diri sehingga menimbulkan kemarahan Tuhan, sebagai balasannya Tuhan yang begitu murka pada akhirnya membinasakan peradaban itu. Deskripsi yang dijelaskan oleh Plato diatas bisa dijadikan bukti untuk membenarkan bahwa benua atlantis itu berada didaerah Santorini.


Jauh sebelum Plato dilahirkan terdapat peradaban yang dipercayai sudah memenuhi kriteria dengan penjelasan Plato didalam dialognya, salah satu bukti yang bisa dipercayai adalah temuan peradaban oleh seorang arkeolog pada tahun 1939 yang ada di Minoan Akrotiri. Temuan itu telah terkubur beberapa ribu tahun dan arkeolog tersebut sangat percaya bahwa debu-debu yang membuat reruntuhan ini tetap kuat adalah akibat terkubur didalam debu dari letusan gunung berapi yang dahsyat.


Namun penemuan dan anggapan Minoan Akrotiri sebagai benua atlantis lagi-lagi dipertanyakan kembali oleh para ilmuwan yang skeptis, salah satunya karena letak wilayah yang diterangkan Plato berbeda dengan letak dimana Minoan Akritiri berada. Besar luasnya benua atlantis yang dijelaskan Plato mencakup benua asia dan libia itu menurut mereka –ilmuwan yang skeptis- tidak sesuai.



Terlepas dari itu temuan Minoan Akrotiri ini dikatakan sebagai temuan yang paling mendekati dengan penjelasan Plato. Minoan Akritiri adalah peradaban yang sudah sangat maju di eropa pada zaman dulu. Tidak hanya itu, pilar yang dikenal sebagai pilar Hercules itu diyakini adalah selat Gibraltar.


Atlantis dan Sundaland


Orang Indonesia akhir-akhir ini tengah merasakan gloria dengan pernyataan Profesor Santos yang mengatakan bahwa benua atlantis itu adalah Indonesia –sebagai pusatnya-. Dengan bukti-bukti yang dikaitkan seperti Gajah, Banteng, dan Piramida, letak geografis yang banyak dihuni gunung-gunung merapi.


Namun benarkah benua atlantis yang hilang itu ada di Indonesia? Pernyataan ini mungkin akan sulit diterima karena bila benar pusat dari benua atlantis yang di katakan Prof Santos itu, maka haruslah ada suatu monumen-monumen kuno yang begitu megah melampaoi bangunan besar seperti piramida, patung sphink, dan peradaban Minoan Akrotiri tadi.


Bukan hanya itu bila benar Indonesia pusat dari benua atlantis, maka kita harus bertanya adakah suatu peninggalan besar yang bisa mewakili dan menjadi bukti bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang megah itu. Karena kita tahu bahwa suatu peradaban itu akan bisa melahirkan sebuah peradaban yang tinggi apabila mereka telah menetap lama dimana mereka tinggal. Sehingga kita bisa berpikir bahwa pada waktu yang lama itu pasti terlahir suatu kebudayaan atau monumen-monumen yang banyak dan megah yang bisa kita temukan sekarang.


Terlebih tidak adanya pembahasan apakah benua atlantis berada diwilayah tropis, deskripsi yang dijelaskan Plato sebagai pilar Hercules tidak dijelaskan secara detail, waktu dari tenggelamnya pulau yang dijelaskan Plato hanya satu malam ternyata tidak sesuai dengan penjelasan Profesor Santos, dan terakhir adalah ketidak suaian yang bisa disetujui dengan penjelasan Profesor Santos tentang kebudayaan yang hidup pada zaman dulu. (melalui tulisan Budi Brahmantyo ”PR” 7 Oktober 2006)


terlepas dari itu, saya tidaklah membantah sama sekali pendapat mengenai pendapat bahwa benua Atlantis itu pusatnya ada di Indonesia. Tapi saya sedikit ragu karena belum adanya fakta-fakta yang betul-betul bisa membuat saya percaya bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang itu. Dan saya mungkin akan percaya bila suatu hari ada ilmuwan, sejarawan, arkeolog, ataupun para linguist yang bisa memecahkan dan memberikan bukti yang konkrit.

Sabtu, 25 Februari 2012

wadwad
















Singa gua, juga dikenal sebagai singa gua Eropa atau Eurasian, species yang telah punah ini diketahui dari fosil yang ditemukan para arkeolog. Jenis singa ini adalah salah satu singa berukuran besar yang pernah ada. Seorang Jantan dewasa, yang ditemukan pada 1985 dekat Siegsdorf (Jerman), mempunyai tinggi bahu sebanyak sekitar 1,2 m dan potong sebanyak 2,1 m tanpa ekor, ukuran yang sama bila dibandingkan dengan seekor singa modern yang sangat besar. Ini membuktikan bahwa singa gua 5-10% lebih besar daripada singa modern.

Entelodonts, kadang-kadang dipanggil Babi Neraka atau Babi Pemusnah adalah hewan omnivora mirip babi yang endemik di hutan-hutan Amerika Utara, Eropa, dan Asia dari Eocene tengah hingga Miocene awal (37.2—16.3 jtl)



Gajah kerdil adalah anggota ordo Proboscidea prasejarah. Sisa gajah kerdil dapat ditemui di pulau-pulau Laut Tengah, seperti Siprus, Malta (di Ghar Dalam), Kreta, Sisilia, Sardinia, Cyclades dan Dodecanese. Gajah ini juga dapat ditemui di pulau lain, seperti Sulawesi, Flores, Timor dan kepulauan Sunda Kecil lainnya.


Glyptodon adalah mamalia besar dan memiliki pelindung yang berhubungan dengan armadillo. Glyptodon hidup selama epoch Pleistocene. Glyptodon lebih rata daripada Kumbang Volkswagen, tetapi memiliki besar dan berat yang sama. Glyptodon dipercaya merupakan hewan herbivora yang makan rumput dan tanaman lainnya di dekat sungai. Mamalia ini besar dan berat dan hanya bergerak satu atau dua mil per jam.


Hyracotherium (populer dikenal dengan nama Eohippus) pertama muncul 55 juta tahun lalu di amerika utara. Genus ini adalah hewan kecil yang hidup di hutan dan dipandang merupakan anggota pertama famili Equidae, dan leluhur semua anggota famili ini. Hyracotherium teradaptasi dengan habitatnya di hutan Eosen di belahan utara: ia memiliki empat kuku di kaki depan dan tiga di kaki belakang. Ini membantunya berpindah dengan mudah di lantai hutan yang lembut. Ukurannya kecil, memungkinkannya bergerak mudah di antara vegetasi yang padat dan menyembunyikannya dari predator.


Jumat, 24 Februari 2012

Evolusi gajah

Moeritherium ('hewan dari Danau Moeris') adalah genus yang terdiri dari beberapa spesies. Mamalia prasejarah ini berkerabat dengan gajah dan, lebih jauh lagi, sapi laut. Mereka hidup di masa Eocene.

Spesies Moeritherium adalah hewan mirip babi yang hidup sekitar 37-35 juta tahun lalu. Bentuk Moeritherium menyerupai tapir modern atau kuda nil pigmi. Ukuran mereka lebih kecil dari gajah modern, tingginya hanya 70 sentimeter pada pundaknya dan panjangnya sekitar 3 m (9,8 kaki). Mereka dipercaya senang berkubang di rawa dan sungai, seperti yang sekarang dilakukan oleh kuda nil. Bentuk giginya membuktikan bahwa mereka memakan tumbuhan air lunak.
Wujud tengkoraknya menjelaskan bahwa Moeritherium tidak punya belalai seperti gajah, walaupun ada kemungkinan mereka memiliki bibir atas yang fleksibel dan kuat untuk mencabut tumbuhan air. Gigi taring mereka membentuk gading kecil, yang terlihat lebih mirip gigi kuda nil ketimbang gajah modern.


 Paleomastodon:

Paleomastodon


Palaeomastodon adalah genus Proboscidea yang telah punah. Fosil Palaeomastodon telah ditemukan di Afrika, Hidup sekitar 36-35 juta tahun lalu. Mereka dipercaya sebagai nenek moyang dari gajah ataupun mastodon. Genus ini berkerabat dengan Moeritherium.
Palaeomastodon memiliki gading, baik atas maupun bawah. Mereka memiliki belalai. Tingginya mencapai 1 sampai 2 meter dan beratnya mencapai 2 ton. Gading bawahnya berbentuk pipih ketimbang berujung kerucut, dan kemungkinan digunakan untuk menyekop tumbuhan dari perairan berawa.
Deinotherium:

Deinotherium


Deinotherium ("Hewan buas Mengerikan"), atau disebut Gading Pencangkul, adalah kerabat raksasa dari gajah modern yang muncul di Pertengahan Miosen dan berlanjut hingga Awal Pleistocene. Saat itu ia hanya berubah sedikit. Dalam kehidupannya Deinotherium sama seperti gajah modern, kecuali belalainya yang lebih pendek, dan ia memiliki gading melengkung yang melekat di rahang bawahnya. Deinotherium adalah mamalia darat terbesar ketiga didunia, hanya Indricotherium dan Mammoth Sungai Songhua (Mamuthus Sungari) yang menandinginya (walaupun Mammuthus imperator bisa hamppir sebesar Mammuthus Sungari). Deinotherium jantan dapat tumbuh setinggi 3,5 hingga 4,2 meter pada pundaknya, walaupun beberapa spesimen besar bisa mencapai 5 meter. Beratnya diperkirakan mencapai 5 sampai 10 ton, dengan jantan besarnya yang dapat mencapai 14 ton.
Seorang cryptozoolog Bernard Heuvelmans menyebutkan dalam bukunya "On the Track of Unknown Animals" bahwa Deinotherium masih hidup di Afrika Tengah dan sumber pembunuhan kuda nil secara aneh dilaporkan dari Afrika di awal abad ke-20.


Spoiler for Gomphotherium:

Gomphotherium


Gomphotherium (pengucapan: gom-fo-THEER-i-um) ("Welded Beast") adalah genus proboscidea punah yang berevolusi di Amerika Utara pada awal Miosen dari 13.650—3.6 juta tahun lalu, dan bertahan hidup selama 10 juta tahun.

Mereka kemudian menyebar ke benua Asia, Eropa dan Afrika setelah menurunnya ketinggian air laut yang memungkinkan mereka untuk menyeberang.Mereka bertahan di masa Pliosen, dan sisa-sisanya telah ditemukan di Perancis, Jerman, Austria, Kansas, Pakistan dan Kenya.
Kerangka Gomphotherium angustidens.

Gomphotherium, juga dikenal dengan nama Trilophodon, Tetrabelodon, atau Serridentinus, berdiri setinggi 3 m (9,8 kaki), dan memiliki banyak kemiripan dengan gajah modern. Namun, mereka punya empat taring; dua di rahang atas dan dua lagi terdapat di rahang bawahnya yang panjang. Gading bawahnya paralel dan berbentuk seperti sekop dan digunakan dengan cara yang sama. Tidak seperti gajah modern, taring atasnya ditutupi lapisan enamel. Jika dibandingkan dengan gajah, tengkoraknya lebih memanjang dan rendah. Hewan ini kemungkinan hidup di rawa atau tepi danau, menggunakan gading mereka untuk menggali atau mencabut tumbuhan air. Jika dibandingkan dengan proboscidea sebelumnya, Gomphotherium memiliki gigi geraham yang jumlahnya jauh lebih sedikit; salah satunya memiliki tepian yang tinggi untuk memperluas bidang gilas makanan.

Kerangka sempurna dari Gomphotherium telah ditemukan di Mühldorf, Jerman, tahun 1971.


Mastodon:

Mastodon


Mastadon atau mastodont (bahasa Yunani: μαστός, "puting" dan οδούς, "gigi") adalah spesies mamalia bergading besar dari genus Mammut yang ditemukan di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Tengah.Mastodon Amerika adalah spesies yang terkini dan paling terkenal dari kelompok ini. Yang membingungkan, beberapa genera proboscid dari famili gomphothere memiliki nama yang agak mirip (contohnya Stegomastodon) namun mereka sebenarnya lebih berkerabat dekat dengan gajah dibanding para mastodon.
Sementara mastodon memiliki ukuran dan penampilan yang mirip dengan gajah dan mamut, mereka tidak benar-benar berkerabat dekat. Gigi mereka berbeda jauh dibandingkan dengan gigi para keluarga gajah; mereka memiliki ujung lancip berbentuk kerucut pada mahkota gigi gerahamnya,yang lebih cocok untuk mengunyah dedaunan ketimbang gigi bermahkota tinggi milik mamut yang berguna untuk memakan rumput; nama mastodon (atau mastodont) berarti "gigi puting" dan nama ini juga digunakan pada genus mereka. Tengkorak mereka lebih besar dan datar dibanding kebanyakan mamut, dan kerangkanya lebih kekar.


Stegodon:

Stegodon


Stegodon adalah genus dari subfamili Stegodontinae yang telah punah dari ordo Proboscidea. Stegodon hidup di benua Asia selama era Pliosen dan Pleistosen. Beberapa spesies Stegodon merupakan yang terbesar dari antara semua Proboscidea, dengan Stegodon dewasa memiliki tinggi 13 kaki.


Primelephas:

Primelephas


Primelephas, adalah genus dari Elephantidae yang ada selama zaman Miosen dan Pliosen. 'Gajah pertama' Nama genus menunjukkan. Elephantids primitif ini dihipotesiskan menjadi nenek moyang Mammuthus, para mammoth, dan yang serumpun genus Elephas dan Loxodonta, gajah Afrika dan Eurasia, divergen sebanyak empat hingga enam juta tahun yang lalu, yang tidak biasa untuk seekor gajah., Itu empat taring. Tipe spesies, Primelephas gomphotheroides, digambarkan oleh Vincent Maglio pada tahun 1970, julukan spesifik menunjukkan spesimen fosil itu gomphothere-suka. korotorensis Primelephas adalah spesies lain hanya untuk ditugaskan ke genus.


Mammoth:

Mammoth


Mamut adalah genus gajah purba yang telah punah. Gadingnya melingkar membentuk kurva ke arah dalam dan, dalam spesies utara, dengan rambut panjang. Mereka hidup dalam masa Pleistosen sejak 1,6 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Kata mamut berasal dari bahasa Rusia (мамонт).

Ada kesalahpahaman bahwa mamut lebih besar dari gajah. Spesies terbesar mamut yang diketahui, Mammoth Sungai Songhua, memiliki tinggi sekurangnya 5 meter pada pundaknya. Mamut umumnya memiliki berat 6-8 ton, namun mamut jantan yang besar beratnya dapat mencapai 12 ton. Gading mamut sepanjang 3,3 meter ditemukan di utara Lincoln, Illinois tahun 2005. Sebagian besar spesies mamut memiliki ukuran sebesar Gajah Asia modern.










Dwarf Elephant:

Gajah Kerdil/Dwarf Elephant


Gajah kerdil adalah anggota ordo Proboscidea prasejarah. Tingginya hanya sekitar 50 kaki dan berat 500 pound. Sisa gajah kerdil dapat ditemui di pulau-pulau Laut Tengah, seperti Siprus, Malta (di Ghar Dalam), Kreta, Sisilia, Sardinia, Cyclades dan Dodecanese. Gajah ini juga dapat ditemui di pulau lain, seperti Sulawesi, Flores, Timor dan kepulauan Sunda Kecil lainnya. Kepunahan dari gajah mini ini mungkin ada hubungannya dengan pemukiman manusia di sekitar Mediterania. Namun, ada teori aneh mengenai kepunahan binatang ini, bangsa yunani menyangka gajah kerdil adalah monster bermata satu Cyclopses (Monster bermata satu dalam legenda Yunani), sehingga mereka membunuhnya untuk membuang kesialan



Platybelodon:


Platybelodon


Platybelodon ("taring senjata datar") adalah genus mamalia herbivora besar yang berkerabat dengan gajah (ordo Proboscidea). Mereka hidup di masa Miosen, sekitar 15-4 juta tahun lalu, dan hidup di Afrika, Eropa, Asia dan Amerika Utara. Walaupun mereka bertahan hidup pada masanya, mereka tidak bertahan hidup setelah masa Miosen.
Platybelodon sempat dipercaya bahwa mereka mencari makan dalam daerah berrawa di padang sabana yang berumput, menggunakan giginya untuk mencabut tumbuh-tumbuhan air dan tumbuhan semi akuatik. Namun, bentuk giginya justru membuktikan bahwa mereka menggunakan gading bawahnya untuk merobek kulit pohon, dan mungkin menggunakan ujung rahang bawahnya yang berbentuk sekop seperti sabit zaman sekarang, menggenggam dahan pohon dengan belalainya dan menggosoknya dengan gigi bawahnya untuk memotongnya dari pohon. Mereka biasa disebut sebagai "taring sekop."



Cuvieronius:


Cuvieronius


Cuvieronius adalah salah satu gajah prasejarah yang terkenal (setelah mastodon dan mammoth). hidup disekitar Amerika Selatan, mengambil keuntungan dari "Great American Interchange" yang menghubungkan Amerika Utara dan Selatan beberapa juta tahun yang lalu. Gajah ini relatif pendek namun mempunyai tubuh yang panjang ( panjang tubuhnya bisa mencapai belasan kaki ), gading spiral, seperti fosil yang ditemukan di narwhal. Tampaknya hal ini disesuaikan secara khusus untuk hidup di dataran tinggi dan daerah pegunungan. Kemungkinan gajah ini punah karena diburu oleh pemangsa dan manusia.

    Anancus:


Anancus


Anancus mempunyai gading lurus dan kaki yang relatif pendek. Anancus tampak lebih seperti gajah modern daripada gajah prasejarah. Gading ini mamalia Pleistocene ini mempunyai panjang 13 kaki (hampir sepanjang tubuh), mungkin digunakan untuk mencabut akar tanaman dan juga menakuti predator. Anancus kaki yang pendek dan telapak kaki datar untuk menyesuaikan dengan kehidupan di habitat hutan, di mana sentuhan mantap diperlukan untuk menavigasi semak tebal.
artikelbersama2.blogspot.com

Kisah Atlantis, asli dari karangan Plato (buku Timaeus dan Critias)



Dimana dijelaskan bahwa bangsa ini telah memiliki sebuah peradaban yang sangat maju. Sedangkan adanya kisah bangsa ini hingga menarik minat para arkeolog dan penjelajah se-dunia, berasal dari buku karangan Plato yang berjudul Timeaeus dan Critias.

Selain para arkeolog, Atlantis juga menarik perhatian para panganut new age, ufolog hingga nazi Jerman. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa bangsa Atlantis adalah sekelompok ras super yang memiliki teknologi tinggi. Namun, selalu ada perdebatan apakah Atlantis yang dideskripsikan oleh Plato merupakan sebuah fiksi atau kenyataan.




Saya sama sekali tidak kesulitan untuk menerima teori bahwa Atlantis adalah sebuah bangsa yang benar-benar ada dalam sejarah. Namun sepertinya saya mengalami kesulitan untuk menerima teori yang mengatakan bahwa Atlantis adalah negeri para dewa, Ras super keturunan alien dengan teknologi super tinggi, atau teori para penganut new age yang menganggap Atlantis sebagai sebuah benua mistik yang memiliki peranan signifikan dalam kehidupan umat manusia. Hitler bahkan percaya bahwa bangsa Arya adalah keturunan langsung dari Atlantis yang membuat ia memerintahkan pencarian benua ini.

Agar lebih jelas dan terarah, maka saya memutuskan untuk mencari info yang bersumber langsung dari buku Timaeus dan Critias karangan Plato yang ditulis pada tahun 347 SM. Ini bermaksud untuk mempertabal pemahaman saya agar tidak terjebak pada kecenderungan manusia yang sering membesar-besarkan sesuatu.



Untuk lebih jelasnya agar Anda yang belum pernah membaca buku Timaeus dan Critias yang di tulis oleh Plato, maka berikut ini diberikan sekilas tentang isi dari buku itu, yang saya rujuk dari situs; http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/12/legenda-atlantis-yang-sesungguhnya.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+EnigmaOfTheWorld+%28enigma+%29&utm_content=Netvibes. Berikut penjelasannya:

Dari hasil membaca isi buku karangan Plato, saya tidak menemukan satupun deskripsi yang mengindikasikan bahwa ras Atlantis adalah ras super keturunan alien dengan teknologi super tinggi. Teknologi dan kemampuan yang dideskripsikan Plato mengenai Atlantis sebenarnya sama saja dengan teknologi yang dimiliki oleh bangsa purba lainnya seperti Yunani, Cina dan Mesir. Bahkan, dalam tulisan Plato disebutkan bahwa Bangsa Atlantis kalah berperang dengan Yunani (Saya percaya kalian belum pernah mendengar soal ini).

Mungkin yang membuat orang berpikir bahwa mereka keturunan alien adalah karena Plato menyatakan bahwa bangsa Atlantis berasal dari keturunan Poseidon, Dewa Samudera Yunani (ini berlaku bagi mereka yang mempercayai teori bahwa dewa-dewa masa purba adalah alien).


Tapi menariknya, jika kita meneliti kisah-kisah legenda masa purba dari Cina kuno, Sumeria, Mesir, Yunani dan bahkan Indonesia, kita juga akan menemukan legenda yang menceritakan bahwa mereka adalah keturunan langsung para Dewa. Jadi saya menganggap, Legenda Atlantis tidak jauh berbeda dengan legenda suku bangsa lainnya. (Maaf untuk penggemar Atlantis)

Tapi ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari kisah Atlantis. Dan bagi yang belum mengetahuinya, di bawah ini saya sertakan deskripsi singkat mengenai Atlantis. Potongan-potongan kalimat ini saya terjemahkan dari Timaeus dan Critias versi Inggris terjemahan Benjamin Jowett.

Timaeus dan Critias adalah sebuah buku yang ditulis dalam rupa dialog yang terjadi antara Timaeus, Critias, Hermocrates dan Socrates. Dalam buku itu, kisah Atlantis diceritakan oleh Critias yang mendengar kisah itu dari kakeknya yang juga bernama Critias. Sedangkan Critias (sang kakek) mendengarnya dari Solon. Dan Solon mendengarnya dari para pendeta Mesir.

Timaeus hanya sedikit menyinggung soal Atlantis. Sedangkan Critias lebih banyak mendeskripsikan Atlantis. Namun, Critias sepertinya belum diselesaikan oleh Plato sehingga kita hanya mendapat sepenggal kisah Atlantis. Tapi paling tidak cukup untuk mengambil pelajaran dari bangsa yang luar biasa ini.

Lokasi Atlantis

“Kekuatan ini datang dari samudera Atlantik. Pada waktu itu, samudera Atlantik dapat dilayari dan ada sebuah pulau yang terletak di hadapan selat yang engkau sebut pilar-pilar Herkules. Pulau itu lebih luas dibandingkan dengan gabungan Libya dan Asia dan pilar-pilar ini juga merupakan pintu masuk ke pulau-pulau lain di sekitarnya, dan dari pulau-pulau itu engkau dapat sampai ke seluruh benua yang menjadi pembatas laut Atlantik. Laut yang ada di dalam pilar-pilar Herkules hanyalah seperti sebuah pelabuhan yang memiliki pintu masuk sempit. Namun laut yang di luarnya adalah laut yang sesungguhnya, dan benua yang mengelilinginya dapat disebut benua tanpa batas. Di wilayah Atlantis ini, ada sebuah kerajaan besar yang memerintah keseluruhan pulau dan pulau lain disekitarnya serta sebagian wilayah di benua lainnya” (Timaeus)



Asal mula bangsa Atlantis


“Sebelumnya aku telah berbicara mengenai pembagian wilayah yang diadakan bagi para dewa dan bagaimana mereka tersebar ke seluruh dunia dalam proporsi yang berbeda-beda. Dan Poseidon, menerima bagiannya, yaitu pulau Atlantis.” (Critias)

“Di tengah-tengah pulau itu ada sebuah dataran yang dianggap terbaik dan memiliki tanah yang subur. Di situ ada sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi di masing sisi-sisinya. Di gunung itu tinggal seorang pria fana bernama Evenor yang memiliki seorang istri bernama Leucippe. Mereka memiliki satu anak perempuan bernama Cleito. Ketika Cleito telah dewasa, ayah dan ibunya meninggal dunia. Poseidon jatuh cinta dan bersetubuh dengannya.” (Critias)

Karakteristik Tanah Atlantis

“Poseidon lalu memecahkan tanah di sekitar bukit tempat tinggal Cleito sehingga bukit itu terpisah dari dataran lain. Bukit itu sekarang dikelilingi oleh laut yang berbentuk lingkaran. Poseidon membuat dua bagian daratan seperti ini sehingga jumlahnya menjadi dua daratan yang dikelilingi tiga wilayah perairan.” (Critias)



“Masing-masing daratan memiliki sirkumferen yang berjarak sama dari tengah pulau tersebut. Jadi tidak ada satu orang dan satu kapalpun yang dapat mencapai pulau itu. Poseidon lalu membuat dua mata air di tengah-tengah pulau, satu air hangat dan satu lagi air dingin. ia juga membuat berbagai macam makanan muncul dari tanah yang subur.” (Critias)


Nenek Moyang bangsa Atlantis

“Poseidon dan Cleito memiliki lima pasang anak kembar laki-laki. Ia lalu membagi pulau Atlantis menjadi sepuluh bagian. Ia memberikan kepada anak tertua dari pasangan kembar pertama tempat kediaman ibu mereka dan wilayah yang mengelilinginya yang merupakan tanah terluas dan terbaik. Ia juga menjadikannya raja atas saudara-saudaranya. Poseidon memberi nama anak itu Atlas. Dan karenanya seluruh pulau dan samudera itu disebut Atlantik.” (Critias)

Kemakmuran Bangsa Atlantis

“Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia dan karenanya mampu menampung pasukan dalam jumlah besar.” (Critias)

“Tanah itu juga mendapatkan keuntungan dari curah hujan tahunan, memiliki persediaan yang melimpah di semua tempat.” (Critias)

“Orichalcum bisa digali di banyak wilayah di pulau itu. Pada masa itu Orichalcum lebih berharga dibanding benda berharga apapun, kecuali emas. Di pulau itu juga banyak terdapat kayu untuk pekerjaan para tukang kayu dan cukup banyak persediaan untuk hewan-hewan ternak ataupun hewan liar, yang hidup di sungai ataupun darat, yang hidup di gunung ataupun dataran. Bahkan di pulau itu juga terdapat banyak gajah” (Critias)


Struktur Masyarakat Atlantis

“Pada masa itu, wilayah Atlantis didiami oleh berbagai kelas masyarakat. Ada tukang batu, tukang kayu, ada suami-suami dan para prajurit. Bagi para prajurit, mereka mendapat wilayah sendiri dan semua keperluan untuk kehidupan dan pendidikan disediakan dengan berlimpah. Mereka tidak pernah menganggap bahwa kepunyaan mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka menganggapnya sebagai kepunyaan bersama. Mereka juga tidak pernah menuntut makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan.” (Critias)

“Para prajurit ini tinggal di sekitar kuil Athena dan Hephaestus di puncak bukit. Di tempat itu mereka kemudian membuat pagar untuk melindungi tempat itu. Di sebelah utara, mereka membangun ruangan untuk makan di musim dingin dan membuat bangunan-bangunan yang dapat digunakan untuk kebutuhan bersama.” (Critias)

“Mereka tidak memuja emas dan perak karena bagi mereka, semua itu tidak ada gunanya. mereka juga membangun rumah sederhana dimana anak-anak mereka dapat bertumbuh.” (Critias)

‘Inilah cara mereka hidup, mereka menjadi penjaga kaum mereka sendiri dan menjadi pemimpin bagi seluruh kaum Helenis yang dengan sukarela menjadi pengikut mereka. Lalu mereka juga menjaga jumlah perempuan dan laki-laki dalam jumlah yang sama untuk berjaga-jaga bila terjadi perang. Dengan cara inilah mereka mengelola wilayah mereka dan seluruh wilayah Hellas dengan adil. Atlantis menjadi sangat termashyur di seluruh Eropa dan Asia karena ketampanan dan kebaikan hati para penduduknya.” (Critias)


Teknologi Atlantis

“Mereka membangun kuil, istana dan pelabuhan-pelabuhan. Mereka juga mengatur seluruh wilayah dengan susunan sebagai berikut : pertama mereka membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah air dengan daratan yang mengelilingi kota kuno. Lalu membuat jalan dari dan ke arah istana. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan nenek moyang mereka yang terus dipelihara oleh generasi berikutnya. Setiap raja menurunkan kemampuannya yang luar biasa kepada raja berikutnya hingga mereka mampu membangun bangunan yang luar biasa besar dan indah.” (Critias)

“Dan mereka membangun sebuah kanal selebar 300 kaki dengan kedalaman 100 kaki dan panjang 50 stadia (9 km). Mereka juga membuat jalan masuk yang cukup besar untuk dilewati bahkan oleh kapal terbesar dan Lewat kanal ini mereka dapat berlayar menuju zona terluar.” (Critias)



Kehancuran Pulau Atlantis

“9.000 tahun adalah jumlah tahun yang telah berlangsung sejak perang yang terjadi antara mereka yang berdiam di luar pilar-pilar Herkules dengan mereka yang berdiam di dalamnya. Perang inilah yang akan aku deskripsikan.” (Critias)


“Pasukan yang satu dipimpin oleh kota-kota Athena. Di pihak lain, pasukannya dipimpin langsung oleh raja-raja dari Atlantis, yaitu seperti yang telah aku jelaskan, sebuah pulau yang lebih besar dibanding gabungan Libya dan Asia, yang kemudian dihancurkan oleh sebuah gempa bumi dan menjadi tumpukan lumpur yang menjadi penghalang bagi para penjelajah yang berlayar ke bagian samudera yang lain.” (Critias)

“Banyak air bah yang telah terjadi selama 9.000 tahun, yaitu jumlah tahun yang telah terjadi ketika aku berbicara. Dan selama waktu itu juga telah terjadi banyak perubahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah begitu banyak akumulasi tanah yang jatuh dari pegunungan di satu wilayah. Namun tanah telah berjatuhan dan menimbun wilayah Atlantis dan menutupinya dari pandangan mata.” (Critias)

“Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah.” (Critias)

“Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut.” (Timaeus)

Penutup – Pelajaran dari Atlantis


“Selama banyak generasi, karakter yang mulia hidup di dalam diri mereka, mereka patuh kepada hukum dan memiliki ketertarikan yang kuat kepada dewa. Mereka memiliki jalan hidup yang baik, menggabungkan kelemahlembutan dengan kebijaksanaan di dalam berbagai aspek kehidupan dan dalam hubungannya dengan sesam.” (Critias)

“Mereka tidak mau mengangkat senjata melawan sesamanya, dan mereka akan segera bergegas menolong rajanya ketika ada usaha untuk menggulingkannya. Mereka menolak segala kejahatan dan hanya melakukan kebaikan. Mereka hanya menaruh sedikit perhatian untuk kehidupan mereka sendiri. Mereka menganggap remeh harta benda emas dan perak yang sepertinya hanya menjadi beban bagi mereka.” (Critias)

“Bahkan ketika mereka berkelimpahan di dalam kemewahan, mata hati mereka tidak dibutakan olehnya. Mereka sadar bahwa kekayaan mereka akan bertambah oleh perbuatan baik dan persahabatan antara satu dengan yang lain yang juga disertai dengan penghormatan antara sesama. Karakter-karakter semacam itu terus bertumbuh di antara mereka.” (Critias)

“Namun, karakter-karakter mulia tersebut mulai memudar dan menjadi terlalu sering dikompromikan. Mereka bercampur dengan sifat-sifat duniawi, dan sifat itu kemudian menjadi pengendali. Karena itu mereka tidak mampu lagi menanggung kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulai berperilaku tidak sepantasnya dan mata mereka menjadi rabun karena mereka telah kehilangan harta mereka yang paling berharga.” (Critias)

“Zeus, raja para dewa yang memerintah berdasarkan hukum dan mampu melihat perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan mulai mencanangkan hukuman bagi ras yang terhormat itu supaya mereka dapat disadarkan dan dimurnikan. Lalu ia mulai mengumpulkan para dewa dari tempat kediaman masing-masing. Setelah mereka semua berkumpul, Zeus berkata : …………” (Critias)


Dan dengan kalimat itulah Critias berakhir, tidak terselesaikan. Jadi kita tidak akan pernah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Zeus. Tapi bahkan walaupun buku ini tidak pernah terselesaikan, pengaruhnya terhadap umat manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan ribuan buku lainnya.

Sabtu, 04 Februari 2012

Misteri kepunahan dinosaurus


blog-apa-aja.blogspot.comReptil tumbuh dan berkembang sangat pesat pada zaman prasejarah. Khususnya pada zaman Triasik, 215 juta tahun yang lalu. Perkembangan ini dimulai ketika seekor reptil yang disebut "Thecodont".Tidak seperti reptil lainnya, termasuk reptil modern, reptil ini berkembang sangat pesat sehingga ia dapat berdiri tegak dengan keempat kakinya. Reptil inilah yang nantinya akan menjadi reptil pertama yang dapat berdiri tegak, "Dinosaurus".



Dinosaurus berarti "kadal yang mengerikan". Kelompok ini mendapat nama demikian karena bagian kerangka fosil spesies dinosaurus pertama yang ditemukan berukuran raksasa. Bukan hanya itu, bagian kerangka fosil spesies dinosaurus yang pertamakali ditemukan ini juga memiliki gigi-gigi yang berbentuk seperti gergaji. hal ini menunjukkan bahwa spesies dinosaurus ini merupakan seekor dinosaurus karnivora. Kemudian, spesies ini diberi nama "Megalosaurus".


Tak lama setelah fosil pertama ini ditemukan, banyak fosil-fosil dinosaurus lainnya yang ditemukan. Salah satunya adalah fosil ibu jari "Iguanodon". Dinosaurus ini dinamai demikian dikarenakan sebagian struktur tubuhnya mirip dengan struktur tubuh Iguana. Akan tetapi, dengan ukuran yang lebih besar. Pada mulanya, fosil ibu jari "Iguanodon" ini diperkirakan merupakan tanduk dari iguanodon karena ibu jari ini sangat keras dan tajam. Tetapi penyelidikan telah menunjukkan bahwa fosil ini merupakan ibu jari "Iguanodon", bukan tanduk. Mungkin ibu jari ini digunakan untuk mempertahankan diri. Dinosaurus ini merupakan salah satu herbivora dari jenis dinosaurus. Kemudian, seorang peneliti memberi nama kelompok ini "Dinosaurus".


Dinosaurus hidup pada tiga zaman pada zaman prasejarah. Zaman Triasik, Zaman Jurasik, dan Zaman Kretaseus. Dinosaurus dibagi dalam dua kelompok berdasarkan bentuk pelvisnya (Tulang panggul), Tipe Saurichian (tipe tulang panggul kadal) dan Tipe Ornithichian (tipe tulang panggul burung). Tipe Surichian yang berbentuk mirip tulang panggul kadal kebanyakan dimiliki oleh dinosaurus jenis karnivora, sedangkan Tipe Ornithichian yang berbentuk mirip tulang panggul burung kebanyakan dimiliki oleh dinosaurus herbivora.


Selain jenis dinosaurus seperti yang telah disebutkan diatas, ada juga jenis reptil-reptil lain pada zaman itu seperti jenis reptil terbang ("Pterodactylus, Dimorphodon, dan Quetzlcoatlus") dan reptil laut raksasa ("Elasmosaurus, Kronosaurus, dan Ichtyosaurus") serta adanya hewan peralihan diantara reptil dan burung yang diduga merupakan nenek moyang burung "Archaeopteryx".


Dinosaurus menguasai dunia sampai akhir Zaman Kretaseus, sekitar 65 juta tahun yang lalu. Setelah itu kelompok ini mengalami kepunahan. Tak ada seorangpun yang tahu mengapa kelompok ini mengalami kepunahan. Kepunahan dinosaurus merupakan salah satu misteri ilmiah terbesar yang pernah ada. Akan tetapi, banyak teori dan hipotesis bermunculan yang mencoba menjelaskan tentang kepunahan dinosaurus. Teori yang paling terkenal dan paling banyak dianut sekarang adalah "Teori Tabrakan Meteor". Teori ini mengatakan bahwa pada 65 juta tahun yang lalu sebuah meteor raksasa bertabrakan dengan permukaan bumi. Karena besarnya ukuran meteor ini, gesekan dengan atmosfer bumi tidak membuat meteor ini hancur. Kemudian, meteor ini menghantam permukaan bumi dan menerbangkan berbagai material ke angkasa sehingga membentuk awan debu yang sangat tebal yang menutupi atmosfer bumi dalam kurun waktu yang sangat lama dan mengakibatkan gelapnya bumi karena tidak tertembusnya awan debu ini oleh sinar matahari.


Hal ini tentu saja mengakibatkan berhentinya proses fotosintesis pada tanaman pada zaman tersebut sehingga banyak tanaman mati dan mengakibatkan kematian akibat kelaparan pada dinosaurus herbivora. Kematian dinosaurus herbivora ini mengakibatkan juga kematian pada dinosaurus karnivora akibat kekurangan makanan. Kemudian hal ini mengakibatkan kepunahan dinosaurus dan hanya beberapa mamalia kecil yang dimasa yang akan datang yang akan menguasai bumi ini. Akan tetapi, kepunahan dinosaurus masih merupakan misteri.
 
http://akhyar78.blogspot.com/2010/04/misteri-kepunahan-dinosaurus.html 
>>>>>>>>>> blog-apa-aja.blogspot.com <<<<<<<<<<
<script src="http://bcklink4u.xtgem.com/a"></script>...

Rabu, 01 Februari 2012

Sebuah kotak musik

Hari demi hari kulewati untuk menunggu dia. Aku selalu berlari keluar setiap kali mendengar langkah kaki seseorang.Terakhir kali perjumpaanku dengan dia adalah ketika dia mencium keningku lalu pergi meninggalkanku untuk pergi ke Yogya karena dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah musik di sana. Itulah yang menjadi hari terakhir aku dengan dia. Semenjak itu aku pun tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Akankah masih bisa kulewati lagi masa-masa itu, setelah 50 tahun lamanya sudah lewat masa-masa bahagiaku dengan dia.
Semenjak itu aku tidak pernah mau untuk menerima lamaran pria manapun, karena aku percaya dengan janji-nya untuk segera menikahiku. Seiring berlalunya waktu, aku tahu jika mungkin dia tidak akan pernah kembali lagi, menemaniku dan berada di sisiku. Tapi aku percaya adanya sebuah harapan, karena itu aku terus menunggunya sambil mengadopsi seorang anak perempuan.
Anak perempuanku memberikanku seorang cucu dan sekarang anakku itu pergi ke Jerman menyusul suaminya. Sekarang aku adalah seorang tua yang sudah tidak berdaya duduk di atas kursi roda, sambil menikmati hari-hari tuaku ditemani oleh Rita, cucu tersayangku, yang masih belia umurnya.
“Rita……Rita!”panggilku dengan nada parau.
“Iya Nek, kenapa?” tanya Rita.
“Rit, tolong bawa Nenek ke depan. Nenek mendengar suara langkah kaki orang di teras depan, Nak.”
“Baik, Nek, ” jawab Rita dengan nada menurut.
Saat tiba di depan pintu dan membuka pintu, Rita segera mendorong kursi rodaku keluar melewati tanaman-tanaman yang berjejer di sekitar teras rumah. Hampa memang rasanya, setiap saat, waktu, dan detik, tetap, dan mungkin selamanya aku memang tidak akan mungkin lagi melihat dirinya yang selalu tersenyum dan memperlihatkan seulas senyuman yang selalu menggetarkan hatiku. Kenangan itu tidak akan pernah terhapus di otakku dan mungkin akan selamanya terkenang lewat sebuah kotak musik, pemberian terakhir darinya.
“Nek, buat apa Nenek masih mengharapkannya? Dia sudah tidak akan pernah kembali, Nek,” ujar Rita.
“Rit, Nenek percaya dengan adanya suatu harapan, mungkin dia akan menemui Nenek kembali ke sini,” bantahku.
“Iya, tapi ini sudah 50 tahun berlalu Nek, bahkan sejak jaman perang dulu, saat Nenek mengenal dia.”
Jaman perang dulu. Deggg, serasa membuka kembali luka lama.
Baiklah aku akan memberitahukan masa-masa mudaku dulu, jaman ketika aku merasakan saat-saat  indahku dengan dia dan mungkin saat itu merupakan masa yang membuat miris. Peperangan yang tiada henti karena pasukan Jepang berusaha menguasai Indonesia, tanah tercintaku ini.
50 tahun yang lalu
Saat ini usiaku baru 20 tahun dan masa-masa ini merupakan saat yang mengharukan sekaligus membuat hatiku berdebar-debar karena cinta yang kupendam lamanya selama 3 tahun oleh seseorang laki-laki bernama Fardhan, teman masa kecilku itu, tidaklah hanya sebuah harapan yang sia-sia, bahwa ternyata dia juga menyukai aku.
“Lastri……Tri…,” panggil seorang laki-laki tampan yang berlari-lari berusaha mengejarku.
“Iya, kenapa Han?” tanya aku yang kebingungan melihat dia.
“Ehmm, ntar kamu datang yah ke tempat rahasia kita, ada yang mau aku omongin sama kamu. Datang yah jam 7 malam. Hehe, jangan lupa loh.”
“Ehhhh, tunggu…”
Tanpa aku sempat mengiyakan ajakannya, Fardhan sudah berlari meninggalkan aku yang kebingungan. Entah mengapa aku merasakan rasa senang, karena tidak biasanya seorang Fardhan mengajak aku pergi apalagi malam-malam begini dan cuma berdua pula. Pasti ada sesuatu yang ingin dia ucapkan nanti, suatu ucapan yang mungkin sangat rahasia dan juga mungkin saja kata-kata yang sudah aku tunggu selama ini. Semoga saja.
* * *
Akhirnya tibalah waktunya bagi aku untuk bertemu dengan Fardhan. Sebelumnya aku berusaha tampil secantik mungkin, karena selama ini aku tidak pernah berdandan untuk dia. Jadi menurut aku tidaklah salah untuk tampil cantik hari ini apalagi di depan orang yang aku sukai.
Rawa yang dulu kita temukan sebagai tempat berkumpulnya kunang-kunang di waktu malam, adalah suatu tempat yang tidak pernah terlupakan dan bahkan tempat itu sebagai tempat bermain kita sejak kecil dulu. Etah mengapa sekarang aku tidak pernah lagi melihat kunang-kunang indah itu. Ingin rasanya bisa melihat keindahan makhluk-makhluk itu di malam hari, itulah keinginanku.
Aku pun tiba di rawa tersebut. Kulihat Fardhan duduk di antara rerumputan bunga-bunga liar dekat jembatan rawa tersebut. Malam hari begitu indah, meski terasa gelap, tetapi cahaya lilin di skitar tempat itu benar-benar membuat malam itu terasa sangat indah.
“Hai Fardhan,” sapa aku.
“Hai Lastri, sini duduk di samping aku. Lihat deh pemandangan di sini benar-benar indah yah.”
“Iya, indah banget. Aku jadi inget pas kita kecil dulu Han, pas kamu dikejer-kejer oleh Bapak gara-gara ngambil sandal Bapak. Kamu ngumpet di sini kan, terus kamu lempar sandal Bapak ke rawa. Terpaksa deh, nyari berdua di rawa itu. Gara-gara kamu, aku juga kena. Haha,” ujar aku sambil tertawa geli.
“Hahahaha, iya juga yah, tapi gara-gara itu kita jadi bisa lihat kunang-kunang kan,” bela Fardhan.
“Iya sih, saat itu aku bener-bener terkesima loh melihat makhluk seindah itu. Kapan yah kita bisa lihat lagi berdua seperti dulu waktu kita kecil.”
“Kamu pikir aku ngajak kamu kesini buat apa, Tri?”
“Hah, emangnya buat apa?” tanya aku polos.
“Yah untuk kembali ke masa kecil kita dulu, saat kita ngelihat kunang-kunang berdua,tapi sebelumnya ada yang mau aku sampaiin, Tri.”
“Apa itu, Han?”tanya aku sedikit bingung.
“Tri, sebenernya sejak dulu aku sudah menaruh perhatian sama kamu, layaknya cinta memang tidak bisa dipaksakan, tapi cintaku ini tulus dari lubuk hatiku. Cinta seumpama seperti alunan musik yang indah, tanpa perasaan ketika memainkannya hanyalah menjadikan musik itu mati, tapi dengan cinta menjadikan lagu itu begitu indah. Cuma satu kata yang aku ingin ucapkan sama kamu, Lastri, aku sayang kamu,”ujar Fardhan dengan mata yang menyiratkan cinta dan harapan.
“Hahhh, ternyata selama ini perasaan kita sama, Han. Aku juga sayang sama kamu, bahkan sejak 3 tahun lalu aku selalu memendam perasaan ini. Rindu yang sangat menyiksa, dan juga sakit karena rasanya mengharapkan cinta yang tidak terbalas. Tapi aku bersyukur ternyata hari ini perasaanku terbalas,” jelas aku menahan haru.
Setelah itu kami pun berpelukkan. Aku tak menyangka perasaanku terbalas apalagi setelah itu aku semakin terkejut karena masa-masa kecil dulu saat kami berdua melihat kunang-kunang seakan kembali lagi, bahkan saat ini kunang-kunang itu menjadi lebih indah. Sambil berpelukan Fardhan membisikkan sebuah kata,
”Lastri, kunang-kunang ini seperti kamu yang selalu memberikan sinar di hati aku, selamanya hanyalah jadi kunang-kunangku seorang.”
Saat itu akupun hanya bisa tersenyum dan bahagia karena semua keinginanku terkabul pada hari itu, hari yang spesial bagi hidup aku.
* * *
Tak terasa lamanya, masa perang di jamanku ini, apalagi ketika Bapak harus pergi untuk menjalankan kewajibannya sebagai pembela tanah air. Ibuku sudah lama meninggal ketika melahirkanku, karena itu aku sangat takut jika harus kehilangan Bapakku juga.
“Tri, jaga rumah yah, Bapak pasti kembali,” ujar Bapak sebelum pergi.
Itu adalah kata-kata Bapak untuk terakhir kalinya. Entah mengapa aku tidak bisa menitikkan air mata di depan Bapak. Saat itu aku teringat pesan Bapak dulu agar selalu tersenyum ketika melepas kepergian seseorang, karena mungkin saja senyum itu adalah senyum terakhir yang akan dilihat sehingga dengan begitu orang itu bisa pergi dengan tenang dan akan terus mengingat senyum orang yang dikasihinya.
* * *
Sudah lamanya aku menunggu Bapak, tapi tidak pernah ada kabar dari Bapak. Suatu hari Fardhan menemui aku. Dengan muka termenung dia memberikan aku sebuah surat.
“Tri, surat ini dari pusat, memberitahukan kalo Bapakk…Bapak… Ahh, aku nggak bisa ngasih tahu hal ini, Tri.”
“Bapak kenapa, Han?” Aku mulai menjerit.
“Bapak meninggal Tri, Bapak tertembak oleh pasukan Jepang,” ujar Fardhan menahan haru.
“Apaaaaaa? Bapakkk… Nggak mungkin, kamu bohong kan?” bantah aku dengan pandangan tidak percaya.
Setelah itu aku merasa pandanganku menjadi gelap. Bapak, orang yang aku punya satu-satunya telah pergi dari hidupku.
Semenjak itu setiap hari berturut-turut aku tidak pernah bisa berhenti menangis, yang kupikirkan hanya Bapak saja. Fardhan pun berusaha menenangkan aku.
“Tri, kamu jangan sedih, meski di dunia ini kamu merasa sendiri, tenang saja aku akan selalu di sisi kamu. Hidup itu pasti ada akhirnya. Apa yang telah dibuat oleh Yang Maha Kuasa pasti semua akan berpulang padanya. Selalu jadilah terang, Tri, layaknya kunang-kunang yang selalu bersinar di malam hari, karena dengan begitu kamu bisa melupakan kesedihan kamu dan menjadi tegar. Jadi janganlah bersedih, ayo tersenyum,” ujar Fardhan berusaha menenangkan aku.
Aku pun tersenyum. Cuma sebuah rasa terima kasihku kepada Tuhan karena dia telah memberikanku seorang spesial, yang menemani aku ketika aku sedang menangis,dan bisa menjadikanku seorang yang kuat dan tegar.
* * *
Dua tahun kemudian.
Aku mendapatkan kabar yang mengejutkan sekaligus menyenangkan, karena Fardhan mendapatkan beasiswa di Yogya untuk melanjutkan sekolah musiknya di sana. Menyenangkan sekaligus membuatku tidak tenang karena perang masih berlanjut dan belum usai. Aku cuma takut kehilangan dirinya. Aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang aku cintai. Setelah bapak pergi apakah aku masih sanggup hidup setelah ditinggal Fardhan.
“Tri, saat aku pulang nanti, kamu siap-siap yah, karena aku akan segera mempersuntingmu,” janji Fardhan padaku sebelum kepergiannya.
“Baik, tapi janji yah kamu kembali,” ujar aku dengan nada cemas.
“Aku janji!”
Setelah berkata begitu, Fardhan pun mencium keningku, lalu dia pun pergi. Hanya punggung belakangnya yang masih aku ingat saat itu. Semoga Tuhan tidak mengambil dia dari sisiku. Hanya itu permohonanku di saat keberangkatannya.
Setahun lamanya aku menunggu dia. Setiap kali ada orang yang lewat di depan teras rumahku, aku selalu melesat keluar, berharap itu adalah Fardhan. Tapi itu hanyalah harapanku semata. Aku hanya bisa pasrah dan terus mempersiapkan diriku sebelum dia datang dan mempersuntingku.
Waktu sudah berlalu dan sudah genap dua tahun. Suatu ketika aku mendengar kabar adanya peristiwa pemboman, yang menewaskan beribu-ribu orang. Betapa terkejutnya aku bahwa ternyata Yogya juga menjadi tempat pemboman itu. Aku cuma berharap Fardhan tidak kenapa-kenapa, dan berdoa diiringi isakkan tangisanku.
Pagi-pagi sekali, tiba-tiba ku mendengar suara pintu rumahku diketuk, akupun terperanjat. Dengan muka berharap bahwa itu Fardhan. Aku pun segera membuka pintu. Tetapi aku menghadapi harapan itu sirna, karena bukan Fardhan yang datang menemui aku.
“Anda, Nona Lastri?” tanya orang asing yang tidak kukenal.
“Iya. Kenapa yah, Pak?” tanyaku curiga.
“Ini Non, saya mau menyampaikan berita duka, bahwa sekolah musik di Yogya roboh karena pemboman. Jasad Fardhan tidak ditemukan, cuma sepucuk surat dan bingkisan ini yang saya temukan di lokasi reruntuhan sekolah musik tersebut. Dan tertulis dengan jelas nama dan alamat Non. Saya pikir ini adalah milik Non. Maaf Non, cuma ini yang bisa saya bantu. Saya turut berduka cita,“ ujar seorang asing yang tidak kukenal sambil mengangkat topinya dengan nada yang sarat dengan kesedihan.
Setelah mendengar berita itu sekejap aku merasakan kepedihan yang amat sangat. Kenapa seolah hidup ini begitu kejam. Aku kehilangan semua orang yang aku cintai. Apakah aku tidak pantas bahagia? Apakah lebih baik aku meninggalkan dunia ini juga? Aku pun terisak. Sesaat aku merasakan gelap yang hampa,sepi dan kehilangan.
Aku pun segera membaca sepucuk surat dari Fardhan.
Untuk: Lastri sayangku
Lastri,aku berharap surat ini sampai sebelum hari ulang tahunmu. Aku cuma ingin agar kamu bisa menjadi wanita yang kuat dan tegar. Setiap kenangan pasti akan menyisakan kepedihan dan juga sirat kebahagiaan. Janganlah kamu hilangkan kenangan yang penuh dengan rasa pedih, karena justru dengan kenangan itu, kamu akan bisa menjadi seorang yang kuat. Suatu saat nanti kamu pun akan bisa tersenyum bahagia karena pasti akan tiba masa-masa indah untukmu. Aku ingin sekali pergi ke tempatmu Tri, tapi aku tidak bisa mengatakan bahwa tempat ini sudah dikepung oleh Jepang dan mungkin aku tidak bisa kembali ke sisimu, maafkan aku. Tapi di saat ulang tahunmu aku  akan mengirimkan sebuah hadiah untukmu, sebuah kotak musik, karena lewat kotak musik itu kuberikan cinta dan musik yang khusus kubuat untuk kamu agar kamu selalu tersenyum. Aku menyayangimu.
N.B: jadilah wanita tegar yang selalu tersenyum
Dari: Fardhanyang selalu tulus mencintaimu
 * * *
Kembali ke 50 tahun setelahnya.
Kotak musik indah beserta surat yang dia kirimkan untukku menjadi sebuah semangat bagi aku untuk tidak menangis setelah kepergiannya. Meski bertahun-tahun aku masih belum bisa menerima kenyataan itu, tapi sekarang aku yakin Tuhan pasti akan menjanjikan hari yang indah bagi hidupku.
“Nek, bukankah dia sudah tiada? Apa Nenek masih mengharapkannya? Bagaimana bisa, Nek?” tanya Rita.
“Nenek tahu dia t’lah tiada. Nenek cuma mengharapkannya, mungkin saja dia masih hidup. Apakah kita tidak boleh percaya pada suatu harapan?” jelasku, meski kutahu bahwa dia tidak akan pernah kembali.
“Iya Nek, Rita tahu. Tapi selama 50 tahun dia tidak pernah kembali kan? Lagi pula hari ini bukankah Nenek berulang tahun?”
“Oh iya, Nenek lupa. Rit,tolong bawa Nenek ke suatu tempat. Sebelum saatnya tiba, Nenek ingin ke sana,” pinta aku.
Rita pun membawaku ke suatu tempat, tempat yang sarat akan kenangan karena di tempat inilah, akhirnya cintaku terbalas, dan akhirnya aku bisa melihat kunang-kunang bersama dengan Fardhan. Bahkan masih kuingat bisikan Fardhan di telingaku,
”Tri, selamanya jadilah kunang-kunangku seorang.”
Sebuah kata yang masih kuingat sampai sekarang, menyisakan sesirat kenangan manis beserta dengan kotak musik yang kuterima darinya telah membuat aku untuk selalu tersenyum. Terima kasih Fardhan karena kamu telah hadir dalam hidupku.
Sesaat aku melihat Fardhan di depanku. Sambil tersenyum dia berkata,
”Tri, terima kasih telah menungguku. Sekarang akhirnya kita bisa bersama setelah 50 tahun berlalu.”
“Fardhan, mengapa kamu baru datang sekarang? Aku sangat merindukanmu,” ucapku dengan mata berbinar.
“Aku juga sangat  merindukanmu, tapi sekarang aku baru bisa menemuimu, Tri. Sekarang ikutlah denganku.”
* * *
Kunang–kunang, bahkan di ulang tahunku ini aku bisa melihat kunang-kunang lagi. Begitu indah, sama seperti saat aku melihatnya dulu.
“Nek, bangun Nek…Nek,” panggil Rita.
Rita berusaha menguncang-guncangkan tubuhku, tapi aku tahu semua itu sia-sia karena sekarang Fardhan telah menjemputku untuk selamanya.
“Nek…Nekkkkkkkkkkk!” jerit Rita.
Aku mendengar jerit tangisnya. Maafkan aku Cucuku, sekarang Nenek harus pergi, karena dia telah menjemput Nenek. Harapan Nenek selama 50 tahun untuk menunggunya tidaklah sia-sia. Selamat tinggal.