“Kia, sebenarnya aku sudah capek, kalo kita kayak gini terus, aku pengen
kita berhenti ribut, musuhan dan bertengkar, kamu mau kan?”
“Heh, dengar ya Do, aku sebenarnya juga nggak pengen lagi ribut sama kamu, kamu kira aku juga nggak capek apa?”
“Iya ya, Kia, aku juga pengen bilang ke kamu sesuatu yang selama ini aku pendam, aku pengen ngomong serius sama kamu.”
“Ya udah, ngomong aja, apa?!!!”
“Kia sebenarnya, sejak pertama, sejak dulu sekali aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu........”
“Haa .....?!!!! He-he ....he-he....”
“Kamu
jangan ketawa, aku serius, dari dulu aku pendam perasaanku ini ke kamu,
dan sekarang aku udah capek, makanya aku bilang aja ke kamu semuanya,
kalo dari pertama kita kenal aku suka dan sayang sama kamu, tapi
..tapi... sebagai teman.
Apa-apaan sih si Dado ini, aku benar-benar
benci sama dia. Beberapa detik yang lalu baru aja dia bilang kalo dia
suka dan sayang sama aku, tapi kenapa sekarang dipertegasnya dengan
kata-kata sebagai teman, aku jadi nggak bisa mengartikan dengan jelas,
apa yang ada di ahti dia sebenarnya. Tapi mata Dado merah, dia seperti
mau nangis, aku juga nggak tau harus jawab apa? Sepatah katapun nggak
ada keluar dari mulutku.
Akhirnya aku ninggalin dia, dengan
perasaan yang binggung dan masih bimbang, rasanya aku ingin
mengungkapkan isi hatiku juga, tapi kenapa justru aku cuma bisa diam?
Aneh banget? Andai aja Dado tau kalo aku juga punya perasaan yang sama
ke dia, tapi kenapa akhirnya dia malah ngomong sebagai teman ya? Apa
mungkin karena tadi aku meresponnya dengan ketawa, aduuuuh ....gimana
ini? aku salah, andai aja tadi nggak ngetawain dia ......
Hari-hari
pun berlalu, aku dan Dado nggak pernah teguran lagi. Selama ini walopun
kami sering berantem, tapi satu yang nggak pernah kami lakukan, yaitu
saling diam. Nah, sekarang udah hampir 2 minggu kami berdua nggak pernah
ngomong lagi. Entah siapa yang mulai duluan. Yang jelas, aku dan Dado
sampe sekarang nggak ada yang mengalah.
Siang ini, aku nggak
menyangka melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa mau copot.
Di cafe itu saat jam istirahat aku melihat Dado lagi duduk berhadapan
dengan seorang cewek. Dia bukan karyawan di tempat kami kerja. Aku baru
pertama kali ini ngelihat dia. Dia cantik, dan kayaknya mereka lagi asik
ngobrol sambil ketawa-ketawa. Aku merasa sakit banget, aku cemburu,
patah hati, marah dan benci banget sama mereka. apalagi sama Dado, apa
maksudnya kayak gini, baru dua minggu yang lalu dia bilang suka dan
sayang sama aku, dan cepat banget dia langsung dekatin cewek lain.
Aku
terus mencoba menghindari dari Dado, kadang entah Tuhan yang mungkin
mengaturnya, aku dan dia selalu aja selisih jalan, sampe-sampe kadang
kami malah tabrakan, dan akhirnya dengan spontan kami langsung
menghindar. Aku sebenarnya udah capek banget kalo terus kayak gini
terus. Entah kapan masalah ini bakal selesai. Sampai akhirnya, aku
dengar berita yang membuat aku kaget. Dado sekarang jadian sama cewek
yang waktu itu aku pernah aku liat di cafe. Awalnya aku nggak percaya
dan mungkin hatiku nggak bisa terima. Cepat banget rasanya Dado membuang
jauh perasaannya dulu buat aku. apa mungkin selama ini dia nggak tulus
ke aku?
Beberapa bulan berlalu, aku masih merasa menyesal dengan
kejadian yang dulu. aku masih sering merasa sakit kalo aku liat Dado dan
pacarnya.
Tapi apa boleh buat, semua udah terjadi, penyesalan
selalu pasti datangnya belakangan. Sekarang yang membuatku masih tetap
mau satu kerja dengan Dado cuma masa depanku, aku harus mikirin masa
depanku juga, aku nggak mau gara-gara cowok hidupku hancur. Walopun
sebenarnya jauh di hati kecilku, aku emang udah hancur, sakit, perih dan
segala macamnya aku rasakan. Tapi untuk menghibur diriku sendiri, aku
juga berhasil membenci Dado sepenuh hatiku. Aku bisa menghilangkan
penderitaanku dengan cara membencinya. Yang aku rasa semakin hari aku
semakin benci Dado.
Suatu hari, waktu bangun pagi aku ngalamin
sesuatu yang lain, dalam pikiranku terlintas wajah Dado. Tiba-tiba
hatiku jadi lunak, perasaan benci, kesal, sakit, hilang perlahan-lahan.
Rasanya pintu maaf buat Dado udah terbuka lebar, tapi aku nggak tau
kenapa aku tiba-tiba jadi selembut ini. Aku yang biasanya keras hati dan
keras kepala sekarang terasa lemah dan cengeng banget. Nggak kerasa air
mataku jatuh begitu aja, aku menangis sejadi-jadinya, perasaan yang
campur aduk bermain di hatiku. Aku mulai menerima Dado di hatiku, aku
merasa aku harus memaafkan dia, aku harus ikhlaskan dia buat siapapun,
karena yang terjadi selama ini sebenarnya aku nggak pernah rela dia
bahagia dengan siapapun, makanya timbul rasa benci di hatiku sendiri
yang seharusnya nggak boleh aku rasakan. Aku udah jahat dan berdosa.
Maafkan aku Tuhan.
Di tempat kerja, entah kenapa Dado kayak
mencoba lagi buat deketin aku. Apa dia merasakan hal yang sama denganku?
Dia mulai menegurku, dan tentu aja aku nggak nyuekin dia lagi. Di wajah
Dado kelihatan ada rasa heran dan kaget, waktu aku merespon dia. Dia
mencoba tersenyum, dan aku pun membalas senyumannya dengan tulus.
Bahagia banget rasanya bisa membuat orang senang. Dan emang bahagia juga
rasanya bila nggak ada rasa benci dalam hati. Sekarang aku udah bisa
ikhlas merelakan Dado dengan cewek itu, dia pasti sangat bahagia kan? Di
dalam hati aku coba untuk meminta sama Dado, karena terus terang aku
belum berani buat langsung ngomong sama dia. Waktu Dado lagi sendirian
dan nggak tau lagi mikiran apa, diam-diam aku menatapnya, aku
seolah-olah bertelepati dengan dia dan mengirimkan kata maaf ke
telinganya. Aku berdoa, ya Tuhan dia dengarin aku.
Malamnya,
waktu aku nunggu jemputanku pulang kerja. Rasanya jantungku mau copot
waktu Dado datang tiba-tiba menghampiriku. Spontan mengambil dua
tanganku.
“Kia, aku mau minta maaf. Kamu mau kan maafkan aku?”
“........ya.”
“Benar Kia? Kamu udah maafin aku? Sekarang berarti kita temanan lagi donk?”
“........ya, aku juga minta maaf Do.”
“Kia,
aku senang banget, akhirnya kita bisa temanan lagi, kamu tau nggak?
Udah dua bulan kita nggak teguran.Aku nggak percaya selama ini kamu
tahan banget kayak gini, kamu benar-benar keras Kia.”
“Yee ....
emang kamu apaan donk? Kalo nggak keras juga? Kamu juga tahan kan,
kenapa baru sekarang kamu berani tegur aku lagi, coba?”
Akhirnya,
beban yang selama ini aku tanggung terlepaskan juga. Emang waktu yang
lumayan lama banget untuk punya musuh di dunia ini. Dua bulan, aku nggak
pernah teguran sama Dado. Selama itu juga aku jadi cewek jahat, kasar
yang sering nyakitin hati Dado. Nggak cuma Dado sih, teman-teman di
sekitarku juga kena getahnya lantaran selama ini mereka juga memaksaku
buat memaffkan Dado. Tapi toh, dua bulan itu aku keras banget, dan nggak
ada yang bisa meruntuhkan aku kecuali perasaanku tadi pagi yang
tiba-tiba aja muncul waktu aku bangun pagi. Emang aneh.
Yang
masih bikin aku penasaran, gimana ya kabar Dado sama pacarnya? apa
mereka masih pacaran, koq anehnya beberapa minggu terakhir ini Dado pun
jarang banget jalan sama cewek itu lagi. Apa mereka udah putus? Aku pun
nggak pernah dengarin gosip mereka. Dan tiba-tiba aku tertarik banget
buat mengetahuinya.
“Cewek kamu mana Do, koq sekarang aku jarang banget liat kalian jalan bareng?”
“Oo.. Dwi? Kita udah putus. Udah sebulan ini nggak ada komunikasi.”
Jadi
mana cewek itu Dwi, cewek yang dibilang teman-temanku mirip banget sama
Dado. Dan sering banget digosipkan kalo mereka itu bakalan berjodoh
karena wajahnya yang mirip. Waktu aku masih benci sama Dado, aku
berpendapat, soal jodoh kan di tangan Tuhan, belum tentu mereka jodoh
hanya karena wajahnya mirip. Tapi, aku penasaran kenapa sampe putus.
Yang aku amati sih, hubungan mereka kayaknya baik-baik aja. Kayak
membaca pikiranku, Dado langsung menjawabnya.
“Dwi bukan cewek
yang nggak benar, Kia. Ternyata dia suka mainin perasaan cowok, selain
itu dia juga matre. Dwi, juga suka bergaul dengan teman-teman cewek yang
nggak benar, suka ngerokok, pergi dugem, aahhh .... segala macamlah.
Yang jelas, kayaknya aku nggak pernah bisa mencintainya dari dulu sampe
sekarang.”
“Maksud kamu?”
“Ya, dari pertama aku kenal Dwi, aku
berusaha keras buat cinta sama dia, tapi kayaknya yang selama ini aku
rasa nggak pernah tulus. Aku nggak benar-benar mencintai dia.”
“Trus ....?”
“Ya, trus, berarti selama ini aku udah membohongi dia, aku bohong dengan diriku sendiri, dan aku juga udah bohong sama kamu.”
“Maksud kamu? Apa hubungannya dengan aku?”
Dengan pura-pura bego’ aku terus bertanya ke Dado, dan ...
“Kia, aku masih suka dan sayang sama kamu.”
“Ha-ha .....ha-ha apa? Kamu nggak salah, serius ato bercanda?”
Aduuuh ....... kenapa aku tertawa lagi ya, ya Tuhan mudah-mudahan nggak melenceng deh.
“Bercanda ....!!!”
“Oww, bercanda ya Do? Kirain kamu serius tadi, ha-ha ...ha-ha ...ada-ada aja kamu.”
“Ya udah, aku pulang duluan ya, kamu belum dijemput juga?”
“Nggak tau deh, koq belum dateng ya?”
Beberapa
saat suasana antara aku dan Dado jadi canggung. Sumpah, aku benar-benar
kaget denger Dado bilang bercanda tadi. Aku mengutuk-ngutuk sendiri
dalam hati. Jadinya koq malah kayak dulu sih? Gimana ini? Koq aku juga
bego ya. Artinya, sebelum Dado pamit dan mencoba menghidupkan mesin
motornya, tiba-tiba spontan aku memanggil dia.
“Dado, kamu sebenarnya serius ato bercanda sih? Kamu marah sama aku?”
“Lho, kenapa aku mesti marah sama kamu? Udah, nggak usah dipikirin, aku cuma bercanda koq.......”
Sekali lagi aku tanya sama kamu ya, kamu serius kan Do dengan perasaan kamu?”
“ ...........”
“Do,
ayo jawab, aku benci banget dengan Dado yang kayak ini, kenapa sih Do
dari dulu sampe sekarang kamu nggak pernah mau ilangin sifat gengsi dan
jaim kamu?”
“Iya, Kia .....aku serius masih suka dan sayang sama
kamu, dari dulu aku ngak pernah bisa melupakan kamu, walopun aku sudah
mencoba membuka hati buat cewek yang lain. Tapi, entah kenapa aku selalu
sayang suma sama kamu. Aku pernah berdoa Kia, moga-moga aja Tuhan
mempersatukan aku dan kamu.”
“ .......Do, kenapa kamu susah banget buat ngomong kalo kamu itu sayang dan cinta sama aku?”
“Maaaf
aku ya, jujur selama ini aku emang selalu mencoba jaim dan gengsi
banget sama kamu. Aku malu, lantaran aku masih ragu dengan perasaan kamu
sendiri Kia.
“Nggak Do, asal kamu tau, aku udah sayang banget sama
kamu sejak pertama kali kamu bilang suka sama aku. Aku sayang sama kamu
sampe sekarang Do.”
Akhirnya, semua udah terbongkar dan nggak ada
lagi yang tersembunyi. Akupun udah merasa lega dan tenang banget bisa
mengungkapkan isi hatiku selama ini. Ternyata perasaan aku dan Dado
selama ini sama, cuma kemunafikan yang jadi penghalang kami. Sekarang
setelah tau semuanya. aku bisa merasakan kebahagianaan yang
dianugerahkan Tuhan buat aku. Terima kasih Tuhan buat semua ini.**